Gerakan radikal tidak dapat hidup di zaman Orde Baru yang otoriter, tetapi kemudian menemukan ruang yang terbuka untuk hadir dan menguasai panggung politik justru setelah Indonesia mengalami demokratisasi. Kenapa demikian? Demokrasi mensyaratkan adanya toleransi. Penguasa di era demokrasi terpenjara oleh kebutuhan untuk menjaga citra sebagai sebagai pemimpin atau penguasa yang demokrat dengan bersikap toleran terhadap penggunaan kebebasan oleh individu atau kelompok, termasuk toleran terhadap perilaku radikal. Kaum moderat juga cenderung toleran dengan bersikap diam, meskipun sebenarnya mereka tidak setuju pada aksi kaum radikal ini. Sudah barang tentu ada juga kaum moderat yang diam-diam menyetujui perilaku kaum radikal, karena mereka melihat apa yang dilakukan oleh kaum radikal ini sejalan dengan kepentingan atau nilai mereka. Kaum radikal dengan cerdik memanfaatkan kesempatan ini dengan mengusung agenda- agenda anti kebebasan, anti pluralisme, dan anti-demokrasi melalui propaganda di berbagai forum dan media, dan melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap simbol-simbol kebebasan dan pluralisme, seperti diskusi Irshad Manji, Pentas seni Lady Gaga, penerbitan majalah Playboy, kelangsungan ibadah pengikut Ahmadiyah atau Syiah, pendirian gereja dan sebagainya.

Radikalisme tidak bisa dijawab dengan politik moderasi atau politik toleransi. Mereka tidak mengenal bahasa moderat dan tidak bisa melunak oleh tutur kata halus. Radikalisme membutuhkan jawaban yang radikal. Apa yang perlu dilawan dari praktek radikalisme di Indonesia bukannya gagasan radikalnya, tetapi cara-cara radikal yang mereka lakukan, yaitu melakukan kekerasan. Di negara demokratis, menjadi hak dari setiap individu untuk bersikap radikal terhadap keyakinan yang diyakini, sejauh perjuangan nilai tersebut ditempuh secara damai, tidak dengan menggunakan cara- cara kekerasan. Misalnya, KAMMI dan PII mempunyai sikap radikal dalam memperjuangkan Islam, tetapi tidak melakukan cara-cara kekerasan seperti yang dilakukan FPI. Sikap damai dari KAMMI dan PII ini harus dihormati. Tetapi sikap radikal yag sarat kekerasan seperti yang ditunjukkan oleh ormas. Tujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang radikalisme, menumbuhkan budaya anti radikalism. kegiatan ini dilaksanakan tanggal 6 September 2019 di Universitas Muhammadiyah Kudus yang diikuti oleh mahasiswa UMKU, dan sebagai pematerinya dari Polres Kudus.